//

Minggu, 28 Juni 2009

Mengapa kemolaran dipengaruhi oleh suhu, sedangkan kemolalan tidak dipengaruhi oleh suhu ?

Berdasarkan pengertian kemolaran dan kemolalan itu sendiri kami mencari pokok dari permasalahan yang ada dalam soal diatas. Karena itu kami memulai dengan menelaah arti dari kemolaran dan kemolalan itu sendiri. Berikut adalah pengertian kemolaran dan kemolalan
 
1. Kemolaran
Kemolaran adalah konsentrasi larutan yang menyatakan jumlah mol zat terlarut dalam 1 Liter larutan.
2. Kemolalan
Kemolalan adalah konsentrasi larutan yang menyatakan jumlah mol zat terlarut dalam 1 Kg larutan.

Berdasarkan pengertian diatas maka terdapat kesamaan dan perbedaan antara Molaritas dan Molalitas. Kesamaan dari keduanya adalah sama – sama menentukan suatu ukuran konsentrasi larutan, tetapi yang membedakan keduanya adalah satuan larutan yang berbeda antara Molaritas dan Molalitas. 
Pada Molaritas, konsentrasi suatu larutan diukur dalam 1 liter lautan, sedangkan pada Molalitas, konsentrasi suatu larutan diukur dalam 1 kg larutan.
kemolalan ='m'= jumlah mol zat terlarut / 1 kg pelarut
kemolaran = 'M' = jumlah mol zat terlarut / 1 liter larutan

Maka dapat kita simpulkan bahwa Molaritas bergantung pada Volume larutan sedangkan Molalitas bergantung pada massa Pelarut
Kita ketahui bahwa ada suatu rumus yang menyatakn hubungan Volume dengan suhu

P V = n R T

Dari rumus diatas dapat disimpulkan bahwa Volume (V) berbanding lurus dengan Suhu (T). Jadi, apabila Suhu naik maka Volume akan naik pula.
Namun untuk rumus hubungan massa dengan suhu kami tidak menemukannya. Namun hal ini diperkuat dengan analisa kelompok kami berikut. 

Kita ketahui bahwa larutan itu terdiri dari pelarut dan zat terlarut, dan zat pelarut biasanya adalah zat fluida. Apabila kita menghitung volume pelarut pada suhu tinggi, maka nilai nya akan berbeda dengan kita mengukur volume di suhu standar. Tetapi apabila kita mengukur massa pada suhu tinggi, maka akan didapatkan nilai yang sama dengan pada saat kondisi standar (dengan catatan uap tidak keluar dari sistem)

Maka dari hal – hal diatas, kami menyimpulkan bahwa suhu memang mempengaruhi Volume yang nantinya akan mempengaruhi perhitungan Kemolaran, sedangkan Kemolalan

Senin, 15 Juni 2009

Bukan Kincir Biasa

Norwegia menjalankan proyek percobaan kincir angin pertama di dunia yang mampu mentransformasikan kelebihan pembangkit listrik-ketika tiupan angin sangat kuat –untuk memanen hidrogen.Proyek ini mengambil tempat di Pulau Utsira,sebuah pulau yang menjadi laboratorium energi terbarukan seluas 6 kilometer persegi di pessisir barat daya Norwegia.

Teknologi yang digunakannya memungkinkan listrik terus menerus di pasok meski dalam kondisi “mati angin” sekalipun. Caranya, energi yang di panen dari angin dialirkan ke air dan- dengan reaksi elektrolisis—dimanfaatin untuk menceraikan hubungan atom hidrogen dari oksigen sebagai penyusun molekul air

Hidrogen disisihkan lantas dikompres dan disimpen dalam sebuah penyimpanan. Di sinilah tampaknya reaksi sel bakar (fuel cell) diaplikasikan. Dalam proyek percobaan yang dimulai sejak juli 2004 itu, kontainer yang di pakai berkapasitas jumlah hidrogen yang cukup untuk membangkitkan energi listrik setara dengan kebutuhan listrik 10,dari 210 rumah yang ada di Pulau Ustira, selama dua hari

“Hambatan utama energi dari angin selama ini adalah reabilitasnya karena tiadanya konsistensi ketersediaannya,” kata Halgaeir Oeya,Kepala unit teknoligi di raksasa energi StatoilHydro,yang menjalankan proyek tersebut.Menurut dia, sistem teknologi baru yang diterapkannya membuat kincir angin menjadi lebih efektif dan bisa di andalkan.

Kamis, 04 Juni 2009

Tanaman Pot Penyerap Gas Beracun

TEMPO Interaktif, Tokyo: Suatu hari nanti, tanaman pot bukan lagi sekadar penghias ruangan, tapi juga sarana untuk meningkatkan kesehatan penghuni. Para ilmuwan Jepang berusaha membuat tanaman pot yang dapat menyerap gas beracun sehingga mencegah sakit kepala karena terlalu lama berada di dalam rumah.
 
Mereka mengatakan telah merancang lewat rekayasa genetika sebuah tanaman yang bisa menyerap formaldehida pada Selasa lalu. Senyawa kimia menyengat yang digunakan sebagai perekat dalam bahan bangunan dan furnitur itu dianggap sebagai faktor utama sindrom "sakit rumah", seperti sakit kepala dan pusing, juga masalah kesehatan lain yang dipicu substansi kimia dalam rumah.

"Kami berharap tanaman itu bisa menyerap formaldehida secara terus-menerus bersama dengan karbon dioksida untuk fotosintesis," kata Katsura Izui, seorang profesor fisiologi tumbuhan molekuler di Kinki University, Jepang barat.

Tanaman ini memiliki dua tipe gen yang diimpor dari methylotroph, sejenis mikroorganisme yang menggunakan formaldehida untuk pertumbuhannya. Tanaman inang yang dipakai adalah tembakau dan thale cress (Arabidopsis thaliana), sejenis tanaman kubis kecil yang memiliki rentang hidup singkat sampai dua bulan dan digunakan luas sebagai tanaman model dalam biologi.

Izui mengatakan jumlah formaldehida yang diserap oleh tanaman memang tak sebesar karbon dioksida yang digunakan tanaman dalam proses fotosintesis. Meski demikian, studi ini memperlihatkan Arabidopsis yang telah dimodifikasi bisa bertahan hidup sampai empat minggu ketika diletakkan dalam sebuah kotak dengan kandungan formaldehida pekat. Ketika dihitung, kadar gas beracun dalam kotak turun tinggal sepersepuluh dari kadar semula. Hasil serupa juga diperlihatkan tanaman tembakau.

Izui mengatakan turunnya densitas formaldehida mungkin juga dipengaruhi penyerapan yang dilakukan agar digunakan sebagai pengganti tanah dalam eksperimen lantaran formaldehida amat mudah larut dalam air. "Kami mencoba membuat peralatan baru untuk menghasilkan observasi lebih akurat," katanya


Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes