//

Senin, 15 November 2010

Kulit Paus Juga Bisa Terbakar Matahari

Bukan kulit manusia saja yang bisa terbakar sinar matahari. Kulit paus juga bisa mengalaminya. Ilmuwan dari Zoological Society of London baru-baru ini menemukan fakta tersebut setelah melakukan penelitian pada beberapa jenis paus yang terdapat di Gulf of California. Mereka mengambil sampel, mengumpulkan foto beresolusi tinggi, dan menelaah struktur mikroskopik dari paus sperma, paus sirip abu-abu, dan paus biru.

Hasil penelitian menunjukkan, hampir setiap sampel kulit paus memiliki sel-sel kulit yang terbakar sinar matahari, bahkan pada lapisan kulit yang terdalam. Hal itu menunjukkan bahwa kerusakan yang terjadi cukup parah. Para peneliti menduga, luka bakar pada paus itu berkaitan dengan kerusakan lapisan ozon yang terjadi.

Karina Acevedo-Whitehouse, ahli epidemologi molekuler dari Zoological Society of London yang terlibat dalam penelitian ini mengatakan, kerusakan tersebut bisa mudah terjadi karena paus tidak memiliki alat perlindungan. "Paus tidak memiliki rambut, rambut halus, atau bulu untuk melindungi tubuh dari paparan sinar matahari," katanya saat diwawancara Discovery.

Selain itu, Whitehouse juga mengungkapkan, "Hewan lain punya perilaku tertentu untuk melindungi, misalnya bersembunyi. Namun, paus tidak bisa melakukan itu. "Paus harus berenang ke permukaan laut untuk mendapatkan oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida dari tubuhnya. Hal itulah yang memicu luka bakar pada paus," urainya.

Sejauh ini, peneliti hanya menemukan dua cara adaptasi bagi paus, yaitu meningkatkan produksi pigmen dan apoptosis atau kematian sel kulit yang terprogram untuk membuang sel-sel yang rusak. Namun, peneliti tidak mengetahui apakah cara adaptasi tersebut bisa tetap melindungi paus dari luka bakar. Pasalnya, kerusakan ozon diperkirakan makin parah pada beberapa tahun ke depan.

Whitehouse percaya masih ada cara untuk menyelamatkan paus-paus itu. "Saya percaya kita mampu melakukan banyak hal untuk mengurangi kerusakan kulit paus akibat paparan sinar matahari. Kita harus mengurangi pemicunya, seperti dengan mengurangi polusi," ungkapnya. Pengurangan polusi sangat bermanfaat sehingga mencegah peningkatan kerusakan lapisan ozon.

Hasil studi ini dipublikasikan di Proceedings of the Royal Society B baru-baru ini


sumber: kompas

Minggu, 14 November 2010

Inilah Rahasia Kucing Menyeruput Susu

Beberapa peneliti Amerika Serikat, Kamis (11/11/2010), mengungkapkan rahasia cara kucing menghirup air atau susu dengan sangat anggun, fenomena yang berlangsung sangat cepat sehingga tak dapat diikuti oleh pandangan manusia.

Kucing termasuk di antara banyak spesies yang, tak seperti manusia, tak dapat menutup mulut dan menyedot.

Dengan bantuan dari video berkecepatan tinggi yang direkam mengenai cairan yang dihirup oleh kucing, para peneliti di Massachusetts Institute of Technology (MIT) dan Princeton University mendapati kucing rumahan dan kucing liar seperti harimau menyeimbangkan daya tarik bumi dan kelambanan saat mereka menyedot cairan.

Penelitian tersebut akan disiarkan di jurnal Science terbitan Jumat (12/11/2010). Para ilmuwan sudah mengetahui bahwa ketika kucing memasukkan lidah mereka ke dalam mangkuk cairan, permukaan lidahnya mula-mula menyentuh cairan, lalu ujungnya yang melengkung seperti huruf J membentuk sejenis sendok besar.

Itu pertama kali diamati oleh seorang insinyur MIT, yang merekam kucing yang sedang menghirup cairan pada 1940, demikian laporan kantor berita Prancis, AFP.

Namun, dengan mempelajari gambar tersebut, para peneliti sekarang dapat memutuskan bahwa tak ada dampak sendok. Akan tetapi, lidah kucing malah bergerak ke luar dan masuk mulutnya dengan sangat cepat sehingga tindakan itu membentuk satu lajur cairan.

"Kucing, tak seperti anjing, tak mencemplungkan lidah mereka ke dalam cairan sehingga membentuk seperti sendok," demikian antara lain isi pernyataan dari Departemen Rekayasa Lingkungan Hidup dan Sipil MIT.

Malah, ujung lidah kucing yang mulus "nyaris tak menyentuh permukaan cairan sebelum kucing tersebut dengan cepat menarik lidahnya kembali ke dalam mulut".

"Karena kucing tersebut melakukan tindakan itu, satu lajur susu terbentuk di antara lidah yang bergerak dan permukaan cairan. Kucing kemudian menutup mulutnya, dan menjepit ujung lajur cairan agar dapat menikmati minumannya, sementara hewan tersebut menjaga dagunya tetap kering," katanya.

Lajur cairan itu "diciptakan oleh keseimbangan lembut antara daya tarik bumi, yang menarik cairan kembali ke mangkuk, dan kelambanan, yang di dalam ilmu fisika, merujuk kepada kecenderungan cairan atau benda apa pun, terus bergerak di satu arah kecuali kekuatan lain ikut campur".

Kucing "secara insting mengetahui cara dengan cepat menyedot dengan tujuan menyeimbangkan kedua daya itu, dan kapan untuk menutup mulutnya. Jika hewan tersebut menunggu sedetik saja, kekuatan daya tarik bumi akan mengambil alih kelambanan sehingga lajur itu terpecah, sehingga cairan tersebut jatuh lagi ke dalam mangkuk, dan lidah kucing itu masuk ke dalam mulutnya dalam keadaan kosong".

Kucing rata-rata melakukan jilatan empat kali per detik. Masing-masing jilatan membawa sebanyak 0,1 mililiter cairan, kata para peneliti tersebut. Ditambahkannya, kucing yang lebih besar menjilat dengan cara yang lebih lamban.


sumber :kompas

Selasa, 09 November 2010

Monyet Pun "Memperdagangkan" Bayinya

Ternyata tak cuma manusia saja yang suka menikmati kelucuan bayi. Hewan-hewan sebangsa monyet, seperti mangabey dan vervet, ternyata juga memiliki kebiasaan serupa. Jika ada satu induk monyet yang melahirkan bayi, maka ada induk-induk monyet lain akan berlomba untuk memegang dan menikmati kelucuan bayi yang baru saja dilahirkan itu.

Perbedaannya, mangabey dan vervet seakan memperdagangkan bayi-bayinya. Untuk ikut menimang bayi mangabey dan vervet, induk-induk lain harus membayar "harga" tertentu, tak bisa "gratis". Tentu bayarannya bukan uang, hanya sebuah kewajiban untuk mempersolek induk si bayi dengan membelai dan merapikan bulu-bulunya. Temuan perilaku ini dipublikasikan secara online di jurnal Animal Behavior baru-baru ini.

Peneliti yang menemukan perilaku ini, Cécile Fruteau dari Tilburg University, Belanda, mengatakan bahwa kewajiban untuk membelai dan merapikan bulu itu bisa bervariasi lama waktunya. Dalam penelitiannya, ia mengungkapkan bahwa beberapa faktor yang mempengaruhi lama waktu membelai adalah jumlah bayi dalam satu kelompok, umur bayi dan kedudukan induk dalam kelompok.

Fruteau mendeskripsikan, seekor induk monyet yang memiliki bayi yang baru lahir dan merupakan satu-satunya bayi dalam kelompoknya bisa menikmati perawatan bulu selama 10 menit sebelum akhirnya membiarkan monyet lain menyentuh bayinya. Namun, kala bayi berusia hampir 3 bulan, induk hanya akan mendapatkan perawatan bulu kurang dari 4 menit, walaupun bayinya merupakan satu-satunya dalam kelompok.

Selain itu, menurut penelitian Frateau, monyet betina dari kedudukan yang rendah dalam grup monyet harus membelai dan merapikan bulu lebih lama daripada monyet yang berasal dari kedudukan yang lebih tinggi. Monyet juga akan lebih mudah membiarkan monyet betina lain menyentuh setelah melakukan kewajiban yang cukup, bila dibandingkan dengan monyet jantan.

Perilaku macam ini ternyata tak hanya ditemukan di mangabey dan vervet. Frateau menjelaskan, monyet ekor panjang juga memiliki perilaku serupa. Sementara, pada monyet laba-laba, harga yang harus dibayar bukanlah membelai induk sang bayi, tetapi memeluknya. Pada marmoset, induk bayilah yang harus mempersolek betina lain yang membelai bayinya.

Frateau juga mengatakan, mangabey dan vervet yang memiliki keinginan untuk menyentuh bayi adalah para betina. Pejantan tak berinteraksi dengan anak-anaknya sampai bayi-bayi itu menjadi tua

sumber: kompas

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | coupon codes